WSDK: Ilmu Bela Diri Khusus Perempuan, Gerakan Gampang tapi Garang

0
262

Pelecehan dan kekerasan seksual adalah hal yang sangat menakutkan bagi setiap orang, baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Yes People tau nggak sih kalo kasus pelecehan dan
kekerasan seksual tergolong cukup besar di Indonesia. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan tahun 2019, pada tahun 2018 pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat 14%
dari tahun sebelumnya, loh. Tapi kabar baiknya adalah hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan sudah
meningkat. Kondisi ini juga didukung dengan tindakan masyarakat yang mulai membekali diri dengan ilmu beladiri untuk berjaga-jaga.

Mungkin masih ada diantara kita yang belum membekali diri sendiri dengan ilmu beladiri. Ada berbagai alasan yang mendasarinya, salah satunya adalah teknik atau gerakan yang
diajarkan terasa sulit untuk dipraktekkan. Hal ini memang sering terjadi, tapi kita tidak boleh menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk nggak mau belajar ilmu beladiri ya, Yes People.

Belajar beladiri emang membutuhkan niat yang kuat dan jam latihan yang cukup untuk bisa menguasai beberapa teknik beladiri. Saat ini kita juga bisa dengan mudah menemukan komunitas-komunitas sosial yang berfokus pada ilmu bela diri, salah satunya adalah Women Self-Defense of Kopo ryu atau biasa disingkat WSDK. Komunitas ini sudah berada di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta dan Surabaya.

Sesuai dengan namanya, WSDK memang diperuntukkan bagi perempuan. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2006 oleh Kancho Sofyan Hambally di kota Bandung, tepatnya di Jl. Kopo. Sejarah terbentuknya komunitas WSDK ini adalah ketika Kancho Sofyan merasa miris dan prihatin dengan banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan yang saat itu banyak menjadikan perempuan sebagai korban. Kancho Sofyan yang juga memiliki ilmu bela diri merasa terpanggil atas maraknya kasus tersebut. Kancho Sofyan berpikir sudah saatnya setiap perempuan mempelajari ilmu bela diri untuk berjaga-jaga. Mula-mula ia mengajarkan ilmu bela diri kepada keluarganya, lalu seiring berjalannya waktu semakin meluas hingga akhirnya terbentuklah komunitas WSDK di kota Bandung, menyusul di beberapa kota lain di Indonesia.

WSDK sendiri berada di bawah naungan JJBI (Jiu-Jitsu Brother of Indonesia) dan WJJF (World Jiu-Jitsu Federation). Gerakan-gerakan yang ada di WSDK banyak terinspirasi dari
kebiasaan perempuan seperti bercermin, menggaruk dan mendorong. Teknik bercermin sendiri adalah gerakan yang bertujuan untuk menangkis serangan dari arah depan dan untuk melindungi area wajah. Teknik ini sangat mudah dilakukan, yaitu hanya dengan mengarahkan tangan kita kedepan wajah dengan posisi tangan seperti sedang bercermin.

Sementara itu untuk menangkis serangan yang mengarah ke bagian samping wajah seperti pipi ataupun telinga kita bisa menggunakkan teknik menggaruk. Gerakan ini dilakukan selayaknya orang yang sedang berusaha menggaruk punggung dengan bagian siku tangan menghadap ke atas. Ada juga gerakan mendorong yang digunakan untuk menjauhkan diri dari orang yang menarik tangan kita secara paksa. Titik yang diserang pada teknik mendorong adalah dada atau dagu.

Bagian tubuh yang digunakan dalam teknik mendorong adalah telapak tangan bagian bawah. Bagian tersebut adalah yang paling keras dan hentakan yang disalurkan akan cukup kuat untuk menjauhkan tubuh lawan dari diri sendiri. Ada juga gerakan yang dinamakan teknik Kepret. Teknik ini juga muda dilakukan, yaitu dengan memukul ke arah kemaluan lawan menggunakan punggung telapak tangan. Selain teknik yang mudah dihafal dan dipraktekkan, ada hal unik lain yang diajarkan WSDK, yaitu teknik negosiasi. Teknik ini adalah teknik verbal atau menggunakan kata-kata seperti “ampun” untuk mengecoh lawan. Selain itu, teknik negosiasi juga mengajarkan kepada kita untuk mengikuti kemana arah lawan pergi, demi meminimalisir bahaya atau rasa sakit yang mungkin akan kita rasakan. Teknik ini bisa digunakan ketika kita diarahkan lawan ke situasi yang tidak baik seperti misalnya saat lawan menarik tangan kita secara paksa.

WSDK juga menekankan pada latihan refleks supaya kita bisa lebih waspada dimanapun kita berada. Selain itu di WSDK juga dikenal istilah 4P (Pray, Prediction, Prefentive Protect). Setiap akan memulai aktivitas, kita dianjurkan untuk Pray atau berdoa kepada Tuhansupaya diberi perlindungan dan dijauhkan dari kejahatan. Setelah itu kita juga harus bisa memprediksi bahaya apa yang mungkin terjadi ketika kita berada di jalan yang sepi, bepergian sendiri atau berdua dengan orang asing. Kita tidak dianjurkan untuk nekad atau mengambil resiko jika berada di posisi tersebut. Namun jika sudah terlanjur dan terjebak, kita diharuskan untuk melakukan tindakan prefentif dengan cara segera keluar dari situasi tersebut demi keselamatan diri sendiri. Tindakan prefentif juga bisa dilakukan melalui gesture tubuh yang menegaskan bahwa kita tidak lemah atau takut.

Postur tubuh yang tegap dan menatap lurus ke mata lawan adalah bentuk tindakan prefentif yang bisa dilakukan. Langkah terakhir yang harus diambil ketika kita sudah berada dalam posisi bahaya adalah dengan melakukan tindakan proteksi, yaitu dengan menggunakan teknik-teknik yang sudah diajarkan seperti bercermin,menggaruk, mendorong, kepret dll.

Nah , gimana Yes People? Sudah tau kan seberapa pentingnya belajar ilmu bela diri. Setelah ini jangan males-malesan belajar bela diri lagi ya. Stay save, Yes People! (IM)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here