Sudut Kuno Surabaya “De Escompto”

0
320

Yes People tentu pernah berjalan-jalan di kawasan kembang jepun surabaya. Bangunan-bangunan kuno yang masih berjajar megah di sepanjang jalan kembang jepun merupakan bukti kemajuan arsitektur jaman dahulu yang masih terjaga meski telah dimakan usia. salah satunya adalah bangunan yang dulu menjadi bank dagang negara atau yang kini difungsikan sebagai kantor cabang salah satu bank BUMN milik pemerintah.

Dahulu untuk masuk kedalam bank dagang negara atau yang juga dikenal sebagai nedelands-indische escompto ini harus melewati gang kecil yang kerap kali mengecoh. Namun setelah masuk kedalam gedung ini, kita akan menemukan keindahan sejarah yang ada pada bank yang jamannya selalu disibukan dengan kegiatan ekonomi .

Pengunjung yang meniti anak tangga masuk kantor tinggalan belanda ini akan mendapati karya arsitektur yang mengagumkan. Kala pertama kali memasuki bangunan kuno ini , kita akan mendongak sembari menyaksikan sebuah kubah persegi yang menjulang tinggi dengan berhiaskan kaca patri dan posrselen.

Karya seni awal abad ke-20 itu menampakkan keindahan pendaran aneka warna tatkala ditempa cahaya matahari. Selain berhiaskan poselen dan kaca, dinding bank lawas ini juga terdapat 12 lambang kota perdagangan penting di hindia belanda dan eropa yang menghiasi keempat sisinya.

Sisi dinding yang menghadap tangga masuk menampakkan tiga lambang kota, yaitu singa yang melambangkan nederland , ikan dan buaya atau ikon kota Surabaya, pedang dan krans “ned indie”. mencermati lambang-lambang kota tempo dulu memang sungguhlah menarik. Bagi orang Surabaya, lambang ikan sura dan buaya tampaknya sudah menjadi bagian terpenting bagi identitas kota mereka.

Bila di artikan, nama Surabaya telah menjelma mejadi makna baru :”sura ing baya” yang memiliki makna berani menghadapi bahaya. Kalo kata orang Belanda ”dapper in het gevaar”. Namun ada yang berbeda dalam lambang yang dilukiskan di dinding bank dagang ini, pasalnya ikan yang melambangkan ikan sura atau hiu berubah menjadi ikan emas.

sebelum kepemilikan berpindah ketangan ke Republik Indonesia, arsitektur wajah escompto tampak mempesona. Terdapat tiga pintu masuk yang mengantarkan para nasabah tempo dulu kesebuah beranda yang tidak ditemui dalam arsitektur eropa. inilah kearifan arsitektur modern, ketika barat bertemu timur. dengan adanya beranda dikedua lantai gedung escompto, ruangan dalam tak terpapar langsung oleh sinar matahari sehingga ruang kerja lebih sejuk.

Menurut catatan sejarah gedung yang terdapat dalam museum bank tersebut, Arsitek gedung escompto adalah marius hulswit. Pria asal Amsterdam itu menyelesaikan konstruksi gedung pada awal abad ke-20. hulswit yang menetap dinegeri ini sejak 1890 merupakan salah satu dari tiga arsitek spesialis membangun dan mendesain berbagai bank / kantor asuransi dan kantor dagang di Indonesia kala itu. (DID-Berbagai Sumber)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here