Indonesia merdeka ditandai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Presiden RI pertama, Soekarno. Tapi tahukah kamu, kalau saat itu sebenarnya Soekarno sedang sakit?

Tak hanya itu, ada beberapa fakta unik soal pembacaan proklamasi yang menandai Indonesia merdeka dari segala penjajahan. Penasaran? Yuk, intip apa saja fakta unik soal proklamasi ini!

1. Soekarno Sakit Saat Membacakan Proklamasi

Sebelum pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945, pukul 08.00 WIB, Soekarno masih terbaring sakit di kamarnya kawasan Pegangsaan Timur Cikini Jakarta. Diduga saat itu, ia mengalami gejala penyakit malaria tertiana. Dan, pada saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan sehingga Soekarno memutuskan untuk tidak berpuasa dan kembali istirahat setelah upacara proklamasi selesai.

2. Bendera Pusaka dari Sprei (Putih) dan Kain Penjual Soto (Merah)

Nggak disangka nih, ternyata konon asal bendera Indonesia dari kain merah si penjual soto, sedangkan kain putihnya diambil dari kain sprei tempat tidur. Lalu, kemudian dijahit tangan oleh seorang wanita bernama Fatmawati. Dan, jadilah bendera pusaka merah putih kebanggaan Republik Indonesia.

3. Upacara Proklamasi Kemerdekaan yang Sederhana

Dalam pelaksanaan upacara kemerdekaan tidak ada protokol, musik, bahkan tiang yang digunakan untuk mengibarkan bendera berasal dari batang bambu yang diambil dari belakang rumah Soekarno. Begitu juga dengan mikrofon (pengeras suara) yang dipakai untuk upacara pun diambil dari stasiun radio milik Jepang. Dan, bendera merah putih yang dikibarkan adalah hasil buah tangan Fatmawati.

4. Naskah Asli Proklamasi Dibuang ke Tong Sampah

Setelah pembacaan naskah proklamasi oleh Soekarno, naskah asli proklamasi tersebut ditemukan oleh seorang wartawan. Lalu dari tempat sampah, sang wartawan membawanya dan disimpan dengan baik. Dan, pada tanggal 29 Mei 1992, wartawan yang bernama Diah itu menyerahkan arsip tersebut kepada Presiden RI kedua, Soeharto, setelah disimpan selama 46 tahun, 9 bulan, 19 hari. Ternyata naskah tersebut setelah diketik dan disalin oleh Sayuti Melik, tidak dijadikan arsip, tapi draft tulisan tangan itu langsung dibuang ke tong sampah di rumah Laksamana Maeda.

5. Ibukota Negara Indonesia Pindah 3 Kali

Setelah kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, dalam kurun waktu empat tahun, Ibukota Indonesia mengalami perpindahan sebanyak tiga kali. Ketiga kota yang sempat dijadikan sebagai Ibukota Indonesia, yaitu Jakarta (1945-1946), Jogjakarta (1946-1948), dan Bukit Tinggi (1948-1949).

Penulis: Almanisah


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here