Home Headline Dokter dan YouTuber Kece yang Memperdalam Ilmu Kedokteran Paling Susah

Dokter dan YouTuber Kece yang Memperdalam Ilmu Kedokteran Paling Susah

Nama perempuan cantik ini Yuletta Adny Ambarsari. Kalau kamu suatu saat bertemu dengan perempuan yang biasa disapa Sari ini, kesan yang kamu dapat pasti dia sosok cool, kece, santai, dan ramah.

Tapi siapa sangka, dia seorang dokter spesialis Bedah Dada, Jantung dan Pembuluh Darah (Bedah TKV atau Bedah Thorak, Kardiak dan Vaskular). Dilahirkan di Bangil Jawa Timur, 1982, Sari tak melulu belajar soal ilmu kedokteran.

Ia terbilang santai dan cukup menikmati hidupnya dengan nyambi jadi YouTuber di akun miliknya bernama Liebe Sari. Kalau sedang tugas di luar kota, ia pun menyempatkan untuk mengunjungi beberapa tempat unik, terutama kuliner untuk diulasnya di YouTube.

Seperti saat berkunjung di Pulau Bali, Sari menyempatkan untuk mengulas beberapa tempat kuliner menarik seperti Gelato di kawasan Sanur dan Nasi Men Lotri yang legendaris di Denpasar.

Bagi Sari, mempunyai hobi di luar tugasnya sebagai seorang dokter itu bisa menghilangkan stres dan mendatangkan kebahagiaan. Ya, saat ini Sari tercatat sedang mengemban pendidikan Bedah TKV di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Kini, ia sedang bertugas di Rumah Sakit (RS) Sanglah Denpasar. Di kalangan dokter spesialis bedah, ia dikenal dengan Dr. Med. dr. Yuletta Adny Ambarsari. Dokter yang terbilang low profile ini sebelumnya mengemban ilmu Doktor di Friedrich-Alexander-Universitaet Erlangen-Nuremberg, Jerman.

Nah, buat kamu yang tertarik menjadi dokter, yuk simak kenapa Sari menjatuhkan pilihannya kepada dunia kedokteran dan sampai saat ini tak lelah untuk memperdalam ilmu kedokterannya.

“Saya tertarik menjadi dokter, karena dokter memiliki previlege untuk memberikan pengobatan kepada manusia, dan dengan seperti itu, bisa dapat menolong ciptaan Tuhan lebih banyak lagi,” ujar Sari saat ditemui di Denpasar belum lama ini.

Pendidikan kedokteran yang ditempuh Sari diawali dari FK Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang (2000-2006). Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya ke Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah TKV (2012-sekarang).

Pada 2015, ia melanjutkan Fellowship di Bedah Jantung Dewasa, Sued Klinikum Nuremberg, Jerman. Lalu Fellowship-Residensi (Assistenzaerztin) di Bedah Jantung Anak di Universitaets Klinikum Erlangen-Nuremberg, Jerman (2016-2017)

Doktor der Medizin di Friedrich-Alexander-Universitaet Erlangen-Nuremberg pada 2017 (disetarakan S3, Doktor di Indonesia 2018), dengan hasil Cumlaude.

Ilmu Kedokteran Paling Susah

Menurut Sari, ia tertarik mengambil Bedah TKV atau Bedah Thorak, Kardiak dan Vaskular karena ini merupakan ilmu kedokteran yang paling susah.

“Bayangkan, bagaimana kita bekerja dengan sumber darah, yang ketika perdarahan dalam semenit, bisa lewat pasien itu. Dan, kita dituntut harus bisa mengoperasi jantung, dengan menghentikannya, lalu bagaimana agar darah tersebut tidak hilang,” urai Sari. “Dan, di negara kita, ahli Bedah TKV belum mencapai 200 orang dokter, yang harus mengcover lebih dari 200 juta penduduk Indonesia,” lanjutnya.

Sari mengungkapkan, kalau bedah jantung di Indonesia sendiri sudah mengalami perkembangan sangat pesat. Ini terbukti, bahwa di beberapa center sudah bisa melakukan operasi jantung setiap hari.

“Untuk penyakit jantung sendiri, dibedakan yaitu bawaan dari lahir atau didapat. Untuk bawaan seperti sekat jantung bocor, dan didapat seperti koroner, katub,” ucap Sari.

Nah, untuk penyakit jantung di usia dewasa kemungkinan terjadi karena berkaitan dengan metabolisme seperti kencing manis, kolesterol, atau merokok. Ini yang masih banyak tidak disadari oleh masyarakat kita. Jadi, pesan Sari, memanage faktor risiko akan dapat mengurangi terjadinya penyakit jantung.

“Saran saya adalah yang pertama, kendalikan faktor risiko. Misal ibu merokok, atau minum-minuman keras, akan menyebakan gangguang janin. Dan, tidak menutup kemungkinan terhadap jantung janin juga,” papar Sari.

Lalu, bagaimana dengan kalangan muda atau milenial seperti kamu guys? Nggak menutup kemungkinan lho, kalau gaya hidupnya nggak sehat juga bisa terserang penyakit jantung sejak dini. Ngeri kan? Untuk itu, simak nih pesan dokter Sari ya?

“Kalau untuk yang muda, jangan merokoklah. Nanti kalau sudah sakit jantung, baru terasa. Juga para penderita penyakit metabolic. Harus rajin berobat dan kontrol,” tutur Sari.

Pasien Jantung Telat Datang

Mengemban ilmu kedokteran di Jerman, pastinya berbeda dong ya dengan di Indonesia. Meski begitu, Sari mengakui kalau perkembangan RS Jantung di Indonesia saat ini sudah cukup baik. Ini ditandai dengan banyaknya provinsi yang membuka center RS-nya untuk operasi jantung.

Meski begitu, Sari mengakui ada kendala yang ditemuinya terkait keilmuannya sebagai Dokter Spesialis Bedah. Hmmm, apa itu?

“Kendalanya adalah yang pertama, banyak pasien yang datang sudah terlambat. Seperti contoh, sekat jantung bocor, kalau dari textbook maksimal adalah sebelum usia TK. Di sini malah ada yang usianya puluhan tahun,” urai Sari.

Untuk deteksi dini juga contoh di Jerman sudah dilakukan saat masa kehamilan. Jadi, kita menerima daftar pasien yang akan melahirkan dengan kelainan jantung dalam waktu dekat. Dengan begitu, tim sudah siap seandainya ada operasi darurat untuk bayi yang telah dilahirkan.

“Tidak bisa dipungkiri lagi, ada beberapa bahan dan peralatan yang memang masih belum tersedia. Misalnya alat pengganti fungsi jantung. Padahal kalau dari SDM-nya, kita nggak kalah lho,” aku Sari.

Something Unique

Nah, buat kamu yang ingin menggeluti dan belajar ilmu kedokteran lebih dalam seperti yang ditempuh dokter Sari, sebaiknya tentukan dulu niat dan passion kamu. Jangan sampai belajar di tengah jalan tiba-tiba kamu merasa nggak kuat dan pilih berhenti.

Sari pun demikian, karena ia mengemban ilmu kedokteran di dua negara, maka ia mempunyai pandangan yang unik soal ilmu kedokteran di Indonesia dan Jerman.

“Masing-masing negara memiliki penyakit yang berbeda, jadi semacam something unique. Saran saya kepada adik-adik yang ingin mengambil Kedokteran ataupun Spesialis di Jerman, harus dipastikan dulu. Mau kembali ke Indonesia atau akan menetap di Jerman, karena pasti akan beda sistemnya, penyakitnya sampai penanganan pasien. Juga ketika lulusan Jerman, akan harus mengikuti proses adaptasi lagi di Indonesia, begitu pula sebaliknya,” ungkap Sari.

Bagi Sari, Jerman itu adalah salah satu negara besar dan sangat peduli akan kesehatan. Saat ia mendapat tawaran ke negara tersebut, ia pun langsung mengiyakan. Dan, kebetulan ia tinggal di daerah Bayern yang banyak masyarakat Indonesia-nya.

“Tempatnya pun aman dan nyaman. Dan yang paling penting, ketika bekerja, topik masalah kerjaan dibahas cukup di waktu itu. Suasananya juga tenang. Banyak public transport. Have fun selama di Jerman. Jadi kalau saya menyarankan, sepertinya Jerman akan tetap jadi pilihan ya,” ujar Sari.

Setelah balik lagi ke Indonesia, Sari kemudian mempunyai kritik yang membangun untuk Indonesia.

“Saya ini anak hutan. Saya sudah merasakan mandi pakai air sungai. Masak pakai air hujan. Saya PTT di daerah sangat terpencil di Papua. Satu hari semalam naik perahu kayu. Jaman saya dulu ndak ada lho, yang namanya dokter atau petugas kesehatan meninggal saat tugas karena sakit. Terus juga sepulang saya dari Jerman, saya melihat kekerasan dilakukan kepada kaum medis. Mulai dari yang perkataan, sampai fisik. Miris ya? Di saat kami orang medis memperjuangkan orang lain, kami diperlakukan seperti itu. Bagaimana bisa maju, kalau bisa bekerja dengan baik, kalau jaminan ketenangan dan keamanan tidak ada,” pungkas Sari.

Nah, menarik kan pengalaman yang pernah dijalani dokter Sari yang mungkin bisa menginspirasi kamu. So, buat kamu yang penasaran dan mau kepoin sosok dokter yang punya hobi masak, merangkai bunga, menulis, jalan-jalan, dan nge-vlog ini, cuz klik saja akun Instagram-nya di @ambarsariyuletta.

Penulis: @ary.nug

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Kamu Perlu Tahu! Ini 6 Perlombaan 17 Agustus yang Seru dan Penuh Kebersamaan

Momen Agustus-an selalu ditunggu bangsa ini sebagai penanda bahwa kita sudah merdeka. Nah, sebagai penyemangat, kita pun selalu melihat, bahkan ikut serta dalam berbagai...

Unik dan Menarik, Ini 4 Tradisi Perayaan Kemerdekaan di Berbagai Daerah

Bulan Agustus jadi bulan yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kenapa? Pasti kalian semua sudah pada tahu jawabannya! Ya, setiap bulan Agustus kita ngerayain kemerdekaan...

Nggak Usah Takut Dibilang Norak Pakai Outfit Nuansa Kemerdekaan

Sabtu, 17 Agustus hari ini Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-74 tahun. Tentu selain bersemangat, kita juga penasaran ya untuk menyiapkan outfit di hari...

HUT Ke-74 RI, Yuk Guys Intip 5 Fakta Unik Soal Proklamasi

Indonesia merdeka ditandai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Presiden RI pertama, Soekarno. Tapi tahukah kamu, kalau saat itu sebenarnya Soekarno sedang sakit? Tak hanya itu,...

Kenalan Yuk dengan Valentina Sampaio, Model Transgender Pertama Victoria’s Secret

Nama Valentina Sampaio belakangan menarik perhatian netizen. Gara-garanya, sosoknya yang cantik dan seksi itu ternyata seorang transgender yang resmi direkrut oleh label pakaian dalam...