Ekonomi kreatif sekarang menjadi primadona pertumbuhan ekonomi di Indonesia, namun di era pandemi saat ini memang tak bisa dipungkiri lagi bahwa banyak sektor yang terdampak, termasuk dengan sektor ekonomi kreatif.
Para pelaku ekonomi kreati harus memutar otak agar usahanya terus berjalan, mencari banyak cara agar mesin perekonomian tetap berjalan. Salah satu cara yang memungkinkan bertahan di era pandemi saat ini adalah dengan kolaborasi.

Artpreneur Camp hadir sebagai bentuk sinergi para pelaku ekonomi kreatif. Diharapkan dengan acara ini melahirkan sebuah kolaborasi antara para pelaku ekonomi kreatif yang mampu melahirkan sebuah pemikiran baru, karya baru atau bahkan tonggak sejarah baru.

Acara yang dilaksanakan pada tanggal 12-13 September 2020 ini diikuti oleh 50 pelaku industri kreatif. Berbagai perwakilan elemen sub sektor kreatif hadir dalam acara ini, diantara perwakilan yang hadir ada yang bergerak di ekonomi kreatif sektor kriya, fashion, seni pertunjukkan, musik, kuliner dan masih banyak lagi.

Hutan Pinus Trawas menjadi pilihan dilaksanakan Artprenuer Camp 2020, lokasi yang berada di Kabupaten Mojokerto ini menjadi pilihan karena aksesnya masih terbilang mudah, selain itu hutan pinus akan membawa suasana alam dalam rangkaian acara dari Artprenuer Camp. Udara dingin dan cuaca yang sejuk diharapkan mampu memberikan sebuah ide dan pemikiran segar diantara para peserta.

Rangkaian acara Artprenuer Camp sendiri terdiri dari tiga konten utama, yakni Cangkruk Produktif (Cangpro), workshop dan pertunjukkan musik. Cangpro sendiri melibatkan keseluruhan dari peserta Artprenuer Camp, dimana diskusi yang dilaksanakan sambil membuat api unggun itu membicarakan bagaimana cara mencari peluang dalam masa krisis seperti saat ini.

Seperti yang diungkapkan oleh Abdul Hamid selaku Ketua PPMI (Perserikatan Pengusaha Muslim Indonesia), acara ini sungguh sangat menarik, menghadapi pandemi saat ini kita memang tidak bisa bergerak sendiri, kita mesti berkolaborasi dan bekerjasama untuk terus bertahan di era yang tidak menentu ini. Hal ini dibenarkan oleh Ubed, pemilik usaha kuliner seafood Latar Ombo, sekaligus pengusaha budi daya udang ini mengatakan bahwa kita tidak bisa terus berkeluh kesah saja, kita mesti terus bergerak, berpikir kreatif dan melakukan suatu inovasi, tidak bisa hanya diam saja menunggu pandemi ini berakhir.

Cangpro yang merupakan acara rutin dari Artpreneur.rek memang menjadi ajang sebuah obrolan yang berkaitan dengan perkembangan ekonomi kreatif. Konten yang mengedepankan sharing pengalaman dan wawasan antar pelaku ekonomi kreatif.

Pertunjukan musik dari Hyns dan Teras Warna Perkusi ikut memeriahkan malam yang dingin di bumi perkemahan Hutan Pinus Trawas Mojokerto. Menurut Galang Wahyu salah satu personil dari Teras Warna Perkusi mengatakan bahwa acara Artprenuer Camp ini memang menjadi momen untuk menjajaki kolaborasi para pelaku ekonomi kreatif, selain itu juga bisa memberikan peluang-peluang baru terkait usaha dari masing-masing peserta.

Workshop pembuatan Tie Dye juga menjadi rangkaian acara Artprenuer Camp kali ini, workshop yang dipandu oleh Desi Kartika Pratiwi dari Teedee Ethnic dan Galih dari Junkfoo Surabaya memberikan warna tersendiri dalam acara kali ini. Peserta sangat antusias untuk mengikuti workshop, banyak diantara peserta yang baru pertama kali membuat karya Tie Dye. Apalagi hasil karya mereka juga bisa dibawa pulang.

Mural di alam terbuka pun tak ketinggalan mengisi rangkaian acara dua hari yang menyenangkan itu, mural dari Soil Surabaya ini seakan memberikan pelengkap rangkaian acara yang cukup spesial dari Artprenuer Camp.

Menurut Ketua Pelaksana Artprenuer Camp 2020, Habib Rahman, kegiatan dari acara ini tidak hanya sekedar berkemah, para peserta yang merupakan pelaku ekonomi kreatif juga saling berbagi ilmu, selain itu kita juga bisa berkarya bersama disini, diharapkan kedepannya kondisi ekonomi kreatif di Indonesia menjadi lebih berkembang lagi.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here